Rabu, 13 Juli 2011

Kudidik diriku demi mendidik Anakku


Saya punya banyak teman yang punya anak anak balita, termasuk juga saya . Dan ada beberapa orang  teman saya yang sedang menanti kelahiran anak anak mereka.Jadi…tulisan ini saya dedikasikan untuk kita semua, para orang tua semua. Bagi kita yang telah memiliki anak anak, kita pasti sadar, bahwa kita sedang berada dalam petualangan yang sangat mendebarkan, menegangkan namun juga sangat membahagiakan, menyenangkan dan sangat memuaskan, terutama bagi jiwa kita.
Pengalaman saya pertama kali berinteraksi dengan anak anak adalah, ketika sebelum saya menjadi ibu, cukup agak lama, dulu…saya pernah mengajar anak anak sekitar sebelas tahun ( semenjak saya kelas dua SMU sampai tahun 2007)Saya kira saya tahu berinteraksi dan mengajar anak itu seperti apa, tapi ternyata saya tidak tahu apa apa. Saya rasa saya telah salah mengajar mereka .Saya ingat dulu, pernah mengajar anak anak seusia anak  pre school dan anak anak TK, dengan bercerita.Tapi cerita saya terlalu panjang…bayangkan saya bercerita kepada mereka selama kurang lebih 15 menit, karuan saja, mereka lalu lalang dihadapan saya, atau mereka mulai menangis dan menjerit jerit, atau mereka tetap duduk diam, dengan pandangan yang kosong, atau mereka menatap sepatu saya, yang terkadang berbunyi terlalu keras.Saya langsung mencap bahwa anak anak yang tidak mendengarkan  saya ,adalah anak anak yang “tidak kooperatif” , “hiperaktif” “tidak bisa diam” , “tidak dapat berkonsentrasi”, dan banyak cap lain yang saya berikan pada anak anak yang “tidak bisa diam itu”. Pernah juga saya merasa gagal dalam mengajar mereka karena saya berpikir ,mereka tidak suka sama saya, karena saya rasa saya bener bener dicuekin. Walaupun pada akhirnya saya punya sedikit trik, untuk membuat kelas saya lebih “beradab” tapi..saya merasa saya tetap kurang. Saya  juga pernah mengajar anak anak SD, disini memang jauh lebih teratur, anak anak pun lebih mudah di control, tapi tetap ada anak anak yang saya anggap, tidak terlalu bisa diatur, dan selalu jadi biang kerok dan tukang cari perhatian dikelas saya. Bertahun pun berlalu, saya bertemu kembali dengan anak yang saya cap dulu, sebagai biang kerok di kelas saya, disebuah acara untuk anak anak, dan saya terkejut setengah mati ketika ia menjadi pembawa acaranya dengan gaya yang gak kalah dengan para pembawa acara kecil di TV, malah jauh lebih atraktif dan “canggih”. Saya kagum melihatnya.Sungguh dia menjelma menjadi seorang anak yang penuh percaya diri, penuh talenta, dan tanggung jawab yang kini tengah beranjak dewasa. Kemana perginya “si biang kerok itu?” pikir saya….
Sewaktu saya menghadiri acara tersebut, Keiko, putri saya masih berumur 11 bulan, namun jika saya menghadiri acara tersebut dikala putri saya sudah berumur seperti sekarang ini, yaitu 2 tahun 5 bulan, mungkin keheranan saya akan berganti menjadi sebuah pengertian yang mendalam tentang arti proses tumbuh kembang seorang anak yang memang diperlukannya untuk menjadi seperti siapa dirinya yang sebenarnya. Dan dia akan terus berkembang dan berproses, seiring berjalannya waktu. Dan ternyata proses tersebut tidak hanya bergantung pada keberadaan akan dirinya sendiri, tapi justru lebih banyak pada orang terdekat disekitarnya, terutama orang tua  nya dan guru gurunya.Dan saya bersyukur pada orang tua dan guru guru “sibiang kerok ini”, karena mereka berhasil dengan sangat luar biasa menjadikannya anak yang bisa di contoh.
Sebagai orang tua, ( yang sungguh masih sangat baru) saya berusaha sebaik mungkin untuk menjadi orang tua yang baik, dan tahu apa yang diperlukan anak saya, untuk dapat tumbuh dengan optimal, baik fisiknya , mental dan jiwanya. Tapi… banyak dari kita para orang tua , yang terlalu focus pada perkembagan fisiknya, dengan memberikannya makanan bergizi, dengan banyaknya vitamin vitamin , dan lain sebagainya , wich is very good. Tapi….kita lupa selain fisiknya sang anak pun harus diisi mental dan jiwanya.Dengan dorongan dan semangat, dengan pujian bukan hardikan, dengan kesabaran , dan dengan penuh kasih sayang.Sekarang saya tak akan pernah mencap seorang anak lagi sebagai “biang kerok” even anak itu buandelnya setengah mati…setelah saya menjadi orang tua. Karena saya tahu, bahwa dia sedang berproses.
Dulu…saya kira anak anak itu,sangat lembut, manis, mudah untuk dipeluk peluk jika kita “memerlukannya”, dan dia akan diam dengan tenang, ketika kita tengah sibuk setengah mati mengurus rumah tangga atau hal yang lain. Well it’s a big NO . Anak saya yang 2 thn 5 bln itu, sungguh tidak lembut, dia adalah pembuat keributan yang paling andal, dengan mengeluarkan semua panci dari rak piring, dan dihantam, dengan sendok, untuk menjadikannya drum, dan tangan kecilnya itu sama sekali tidak lembut, dia akan memukulnya dengan keras keras, dan begitu senang mendengar bunyinya yang luar biasa bisingnya(saya harap saya tidak harus sakit gigi, dan mendengar semua keributan tadi )Dan juga jauh dari kata manis ketika ia meronta ronta dan berguling guling di mall atau taman bermain, ketika waktu bermain telah habis. Tenaganya yang begitu besar, terkadang membuat saya menyerah dengan keinginannya. Terkadang saya sampai takut , kalau saya disangka menculik anak orang, secara anak saya itu, seperti ketakutan melihat saya dan meronta ronta dan berguling guling untuk minta di lepaskan. Kalau sudah seperti itu, saya rasanya mau sembunyi saja…saking malunya. Tapi..saya tahu, anak saya itu bukan biang kerok, bukan karena saya orang tuanya maka saya bilang seperti itu, tapi karena dia sedang belajar tentang lingkungannya, dan keberadaan akan dirinya maka dia seperti itu. Disuatu waktu pun dia bisa main sendiri, dengan tenang, namun ada kalanya juga dia bermain, dengan ikut memainkan perasaan dan emosi orang tuanya juga.
Keiko adalah guru saya, guru yang mendidik dan mengajari saya tentang kesabaran ,mengajari saya memberi dengan tulus, mengajari untuk menjadi lebih kuat, mengajari untuk lebih kreatif, mengajari saya untuk menjadi lebih manusiawi.Memang tidak ada sekolahan untuk menjadi orang tua, padahal itu adalah pekerjaan terpenting didunia. Pekerjaan itu akan kita sandang seumur hidup semenjak anak kita lahir sampai kita nanti tidak ada lagi. Pekerjaan itulah yang akan menentukan baik tidak nya seorang anak, baik tidaknya suatu Negara, dan baik tidaknya dunia ini. Melalui pekerjaan itulah, kita akan dikenang dan diperkatakan oleh anak, cucu , cicit kita kelak.Saya percaya dan mengamini bahwa tidak ada orang tua yang ingin mencelakakan anaknya ( kecuali dia tidak waras), semua orang tua ingin anaknya tumbuh baik, tapi…proses anak tumbuh itu tidak begitu saja, banyak kali kita justru menekan pertumbuhannya dengan ucapan ucapan dan sikap kita. Mencapnya sebagai si anu, si itu…dan mengulang ulangnya terus hingga puluhan ribu kali pada si anak, “dasar kamu ini…” “dasar kamu itu..”. Bukan kita tak perlu mendidik anak, tapi memperkatakan hal yang negative dan kemarahan bukan suatu cara yang elegan untuk mendidik anak.Karena memang tidak ada sekolahnya lah..maka kita harus belajar seumur hidup, untuk menjadi orang tua. Contoh kecil nya adalah antara saya dan Keiko, ketika dia masih bayi merah, dan ketika saya masih begitu gugup menjadi ibu baru, untuk memegangnya saja, saya harus tarik nafas dulu..namun begitu saya merasa saya mulai mahir memegangnya dengan cara “itu” tiba tiba keiko tumbuh dan tidak perlu digendong seperti itu lagi. Atau saya merasa sudah mahir membuat makanan tim bayi, tapi tiba tiba anak saya sudah punya banyak gigi, dan saya  harus belajar lagi cara memasak makanan yang model baru lagi buat dia.Terus..saya belajar, mengikuti perkembangannya, dan sekarang…..saat ini, saya tengah belajar tentang kesabaran ekstra double kuat demi mengikuti proses tumbuh kembangnya. Ekstra sabar untuk tidak mengeluarkan kata kata yang mencelanya, ataupun menghardiknya. Saya belajar untuk tidak pula membandingkan anak saya itu dengan siapapun…, karena tiap anak unik, apa yang diperlukan oleh seorang anak juga berbeda, jadi saya tidak mau dan merasa tidak perlu membandingkan anak saya dengan anak orang lain.Terkecuali, ada kelainan yang mencolok, itu perlu untuk ditindak lanjuti pada dokter anak.Pengalaman yang dulu..dengan anak anak, bisa saya jadikan pelajaran untuk tidak mencap anak dengan mudahnya sebagai harga mati.Tapi sebagai penanda kesuksesan orang tua dan juga guru sebagai pembimbing yang baik yang dapat melesatkan potensi yang ada didalam diri sang anak, dengan penuh kearifan. Dan pengingat saya untuk bisa lebih bijaksana dalam perjalanan saya menjadi orang tua.
Oiya…Judul tulisan ini ( Kudidik diriku demi mendidik anakku ), saya ambil dari buku yang ditulis oleh Toge Aprilianto seorang Psikolog yang sangat konsern akan dunia pendidikan dan perkembangan anak anak.Isinya sangat bagus buat ukuran saya yang sedang belajar jadi orang tua. Ia memaparkan bahwa :
·         Tiap anak itu unik, sehingga perbedaan itu pasti selalu ada, jadi jangan panic kalau kita melihat bahwa anak kita belum bisa jalan pas usia setahun, sementara anak orang lain mungkin sebelas bulan sudah bisa jalan, atau anak orang lain sudah bisa baca pas masuk Tk, sementara anak kita huruf A saja belum tau cara baca atau tulisnya. Yang perlu dilakukan adalah mendampinginya dan juga menyemangatinya bukan membandingkan terus menerus dengan anak orang lain, lama lama sang anak dan bahkan diri kita juga pasti bakalan ikut frustasi sendiri.
·         Tiap anak itu baik, maka pertolongan itu selalu ada.Sebagai orang tua kita adalah contoh yang paling dekat dan paling nyata bagi anak kita, jadi jika kita ingin kelak ia menjadi seorang anak yang baik, dan sungguh sungguh ingin agar kebaikan itu terpancar dari padanya, berikanlah contoh yang paling baik bagi sang anak. Contoh yang orisinal bukan sekedar topeng. Kita larang anak kita untuk merokok, tapi yang paling kita lakukan pertama kali ketika bangun pagi malah merokok….( Ini sungguh PR berat yang harus saya kerjakan, seumur hidup) Menjadi contoh yang baik yang sebenar benarnya, bukan hanya pulasan saja. God Pls help me…
·         Tiap anak itu dinamis, maka perubahan itu akan selalu ada.Persis seperti pengalaman saya, dengan salah satu “murid” saya dulu. Dia sungguh berbeda dari yang dulu saya kenal , dengan yang saya lihat sekarang.Jadi…jangan terus berkeluh kesah melihat semua “kejelekan “anak kita, lihatlah dengan teliti…pasti ada kebaikan didalam setiap anak, galilah dan lejitkanlah… Sebagai anak pertama dari 3 bersaudara, saya tahu perjuangan orangtua saya membesarkan kami. Diantara kami bertiga, si tengah lah yang sering jadi biang onar, dari berantem di kelas, nilai merah yang hampir membuat dia tidak naik kelas, tapi kini…dia menjadi sosok pribadi yang sangat membanggakan, dia lulus dari perguruan tinggi negeri terbaik di negeri ini dengan status cum laude . Dan telah menjadi seorang suami , ayah, dan juga seorang pimpinan, mana kepikiran dulu…kalau dia bisa seperti sekarang ini, soalnya dulu saya liat dia itu “payah BGT”. Dulu…kalau saya lagi berantem sama dia, saya selalu bilang…payah kamu…besok besok mau jadi apa …???? Tapi orang  tua saya, tak pernah melihat sisi “payah” dari adik saya itu.mereka tahu jika adik saya itu baik, dan mereka menggali dan melejitkan potensinya.                                                                                 
Sehingga kita sebagai orang tua hendaknya belajar , untuk memahami mereka , untuk mereka dapat melesatkan keunggulannya yang pastinya ada didalam setiap anak. Mendampinginya dengan penuh kasih  dan sayang, bukan dengan hardikan, dan celaan.
So..Parents lets start to work…many thing that we have to learn, its for the sake of our children, and our generation.
Mama dan Papa mau belajar Keiko…jadi orang tua yang baik untuk mu Nak…kalaupun kami ada salah, semoga itu tidak terlalu membekas di sanubari mu…semoga kami tidak membuat luka yang perih dan menganga, atas semua perkataan dan tindak tanduk kami…kami orang tua mu sedang belajar dan mendidik dirinya, demi kami dapat mendidik mu, Anakku…
So..God Pls help us


4 komentar:

Agenda ibu rumah tangga mengatakan...

Thanks for sharing! :) Setiap anak itu unik, dan kita sebagai ortu bertugas menumukan dan mengasah keunikan m,ereka yah :)

marthavina mengatakan...

iya , kita memang harus sabar mba..karena emas tidak keluar begitu saja, ia sungguh berproses.itulah tugas dan tanggung jawab kita untuk mengasuh dan mengasahnya. cheers

Lia mengatakan...

buuuu, kereeeen banget! aku selalu suka curhatanmu soal anak. bnr2 apa adanya en really appreciate ur concern for her. keiko bahagia banget dah punya mama seperti dirimu :P

marthavina mengatakan...

Thx buat semangat nya ya Li.. Timmy juga bangga punya mama seperti Lia:)
saya berhutang pada Keiko , Li..tanpa ada Keiko, mungkin saya gak bertumbuh.makanya cara saya membayarnya ya dengan terus belajar dan terus semangat dalam mendampinginya.