Rabu, 19 Oktober 2011

Clutter


Pernah denger istilah diatas ? Saya pertama kali denger istilah ini ketika nonton Oprah , back then sebelum saya nikah .Saya sampe ternganga nganga,ngeliat tamu yang diundang sama Oprah. Wanita paruh baya, yang terlihat sangat cantik, terlihat sangat terpelajar, berpenampilan nice, clean and chic . Dia terlihat sangat sangat normal bagi saya ( dan tentunya jg buat audience yang lain ) Tapi…Tunggu , begitu Oprah mengajak para pemirsanya melihat rumah Wanita nice, clean and chic tadi, semuanya langsung terperangah sambil menahan nafas.Waktu itu, Oprah tidak menyorot gambar rumah si wanita tadi, tapi menyorot ekspresi tamu tamu yang ada . apa sih pikir saya yang bikin para tetamu itu sampe shock kayak gitu.Dan begitu gambar rumah wanita tadi disorot, mau gak mau saya juga melotot ngeliatnya. What???? Teriak saya. Aje gile..kandang kebo atau ayam juga lebih rapih dari pada rumah si wanita tadi.Wanita tadi terlihat sangat anggun, penampilannya super bersih, kalau saya melihatnya dia juga sangat terpelajar, saya berpikir kalau rumahnya itu mustinya seperti rumah nya Martha Steward, atau rumah rumah yang pantas dihadirkan di majalah majalah griya .Kok bisa ya…rumah nya kayak gitu?????!!! , kurang lebih gambaran kasusnya kayak gini :

parah bgt kan, ini lebih jorki dr tempat sampah


Apalagi ketika Percakapan antara wanita tadi dan Oprah di mulai, gambar tadi tidak ada apa apanya, jika dibandingkan dengan penjelasan wanita tersebut. Oprah bertanya….” Apakah kamu tidak kesulitan dalam mencari barang barang ?”
“Ya…tentu saya kesulitan.” Jawabnya tenang
“Lalu, kalau kamu mau keluar dan mencari baju , apakah lemari baju mu juga seperti dapur mu.”
“Ya…kamar saya, sama seperti dapur saya, tidak ada bedanya, kalau saya ingin bertemu dengan teman teman saya, dan tidak memiliki baju yang tepat , saya akan membelinya, dan kemudian memakainya “
What…????!!! Oprah teriak
Dan kemudian kamera,memperlihatkan bagaimana kamar wanita tadi. Luar biasa…gempa aja, gak mungkin bikin kamar itu, berantakan kayak gitu…Saya langsung berpikir bahwa something wrong with that woman, knapa? Karena otaknya itu don’t mind with all the garbage, dia bisa saja tenggelam diantara barang barang dan kuman yang bersarang diantara makanan makanan sisa. Tentu saja, Oprah nanya kenapa bisa begitu, bagaimana awalnya…, dia terhenti sebentar, bingung juga dia menjawab pertanyaan itu, kapan mulainya, kenapa dia bisa begitu. Untungnya ada seorang Psikolog , yang di undang diacara tersebut. Sang Psilokog itu membantu wanita itu untuk mengurai benang kusut yang  semua audience juga penasaran , mereka pingin tahu kenapa  sikap wanita seperti itu. Usut punya usut ternyata, itu adalah dampak dari rasa kurang nyaman yang dideritanya.
Aneh..juga rasa kurang nyamannya, kok bisa berdampak pada rumahnya sih???
Years latter…. Saya bertemu dengan orang yang kasusnya sama seperti wanita tadi. Siapa dia? tak lain adalah suami saya ( but I still love u Pa…  J )walau pun kasusnya gak separah tamunya Oprah sech...Selama kami menjalin hubungan , saya memang tak pernah berkunjung kerumah pribadinya, hanya berkumpul beberapa kali di rumah keluarganya. Dan ketika kami ingin masuk kerumah kami yang baru, suami saya ngomong, sambil membuka kunci pintu…
“maaf ya rumahnya berantakan , belum sempet diberesin semuanya, saya kira itu basa basi, atau sekedar berantakan, tapi begitu saya masuk keruang tengah , mau gak mau mata saya terbeliak, tumpukan kursi, bercampur sama kertas, Koran, sepatu, baju, majalah, kaos kaki, kecoa, cicak mati,u name it…( ada semua disitu..). yang tingginya hampir selangit langit. Saya melongo..”nanti, kita panggil orang ya..buat bantuin kita ngerapiin barang barangnya “. Saya hanya tergagap sambil mangut mangut. Saya bertanya kenapa bisa berantakan kayak gitu, kenapa sampahnya gak dibuang aja.., suami saya bilang itu bukan sampah, tapi barang barang yang belum sempet di beresin,
 “ apa , gak susah nyarinya”
 “Susah sih, jadi kalo gak ketemu ya terpaksa beli lagi
O…jawab saya.
Memang tidak mudah dalam membereskan barang barang tadi, butuh waktu beberapa minggu , saya juga jadi patner yang agak cerewet sama suami saya, kalau udah masalah letak meletakkan barang, walaupun saya sebenarnya careless juga, tapi…saya ingat tumpukan barang itu, saya gak pingin harus ngeberesin barang barang kayak gitu lagi. Dan ampun deh debunya.Walaupun kami berhasil membereskan ruang ruang yang berantakan tapi…ada satu ruangan didalam rumah kami, yang tidak bisa kami kuasai, dan terselesaikan yaitu ruang kerja suami saya. Beberapa kali kami mencoba untuk bisa menyelesaikannya, tapi gak pernah berhasil, baru pada waktu libur lebaran kemarin, kami berhasil membereskannya, diingiringi dengan komitmen untuk tidak meletakkan barang serampangan dan juga menstop membeli barang barang yang tidak perlu perlu amat.
Sekarang…sudah hampir dua bulan, kamar kerja suami saya terjaga kebersihan dan kerapihannya. Itu adalah prestasi buat kami, terutama buat suami saya. Benar memang jika soal Clutter ini , yang bahasa Indonesianya ini artinya adalah Kekacauan, bukan sekedar berantakan, tapi lebih kearah kekacauan. Tidak hanya pada ruangan tapi juga pada pikiran kita. Sampai sekarang…suami saya sering sekali membeli barang barang dengan jumlah yang banyak  ( terutama alat alat tukang atau spare part ) Bor listrik ada 2, gurinda ada 2, bahkan untuk jenis tertentu dengan fungsi yang sama bisa 4 atau 5, saya selalu Tanya, knapa sih musti beli banyak banyak kayak gitu…jawabnya buat serep. Jadi saya akan tenang, kalau yang satu itu rusak.
Hari minggu ini, saya nganterin suami ke pasar puring ( ini terkenal dengan barang barang second nya ) mau beli pemotong keramik, tapi seingat saya suami saya punya..tapi..dia bilang rusak, kalo rusak di coba service aja, dari pada ngeluarin uang lagi buat beli barang tsb, toh, gak tiap hari barang tersebut dipakai. Banyak lah..hal hal yang bikin saya bingung soal sikapnya yang tergila gila untuk “menumpuk” barang, even…dipakai ( ujung ujungnya ). Saya rasa ini berkaitan soal rasa aman, dan ternyata menurut beberapa ahli kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan ( dan juga barang barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi ), juga bisa berkaitan dengan ke pribadian orang tertentu.Menurut dr. Dharmawan Purnama, dokter specialis Psikiatri dari RS Royal Progress Jakarta
Tipe kepribadian itu adalah : Orang yang Perfeksionis, yang dapat mengarah pada gangguan obsesif kompulsif. Sedangkan yang kedua adalah ke pribadian paranoid, yang dapat menjurus pada gangguan paranoid.Pada dua tipe kepribadian ini ada beberpa factor yang bisa membuat mereka malas buat pisah dari barang barang tadi antara lain :
1.       Rasa aman, Orang perfeksionis akan merasa aman bila semua barang disimpan, dengan pikirian siapa tahu nanti dibutuhkan . Sedangkan bagi orang paranoid dia akan merasa di persalahkan jika, suatu saat barang itu dibutuhkan, dan dia tidak menyimpannya.
2.       Kenangan , orang Perfeksionis selau berpikir bahwa sampah itu mewakili memorinya, dengan membuang barang tersebut, sama saja dengan membuang memorinya dan tidak menghormatinya
3.       Self esteem, baik orang peerfeksionis, maupun orang paranoia, merasa percaya diri jika menyimpan barang. Padahal ini adalah rasa aman yang palsu
4.        Ketidakpedulian, sikap cuek atau tidak memperhatikan lingkungan sekitar , termasuk rumah yang berantakan kayak kapal pecah bisa dialami oleh orang dengan gangguan alexitimia. Tipe ini biasanya tidak tau kurang dapat merasakan emosi, baik dirinya sendiri atau orang lain itu sebabnya dia tidak mau ambil pusing jika rumahnya udah kayak kandang atau pun kapal pecah.
Untuk terhindar dari penumpukan barang yang bisa kearah Clutter atau kekacauan, memang harus punya sikap rela, rela untuk bisa melepaskan apa yang tadinya milik kita, dengan membuangnya atau memberikannya pada orang lain. Dalam kasus wanita dalam Oprah show  itu, dia mengalami pengalaman yang menyakitkan dalam hidupnya, sehingga ia menjadi sangat paranoid, hingga rumahnya menjadi saksi betapa clutter habbitnya mampu menenggelamkan dia diantara tumpukan barang yang luar biasa kotor dan menjijikkannya, sementara dalam kasus suami saya, well.. he is a perfectionist person in his own way.. J , Tapi..gak menutup kemungkinan saya, or yang lain  bisa follow “habit “ ini…karena memang gmana pun kita gak terlepas dari pusaran konsumerisme yang meraja lela, tiap minggu ada mode baju yang lagi in, tiap hari ada catalog furniture baru, tiap tiap hari ada lah barang barang dan benda lucu lainnya yang berseliweran didepan mata. Kalau ada sesuatu yang baru selalu dibeli lama lama penuhlah tempat penyimpanan, kalau memang ingin selalu up to date mau gak mau, kita harus merelakan yang lama , karena kalau tidak itu semua akan numpuk.
Makanya untuk menghindarinya Clutter tadi  Peter Walsh ahli dalam bidang organizational design  menyampaikan tipsnya supaya kita bisa terhindar dari clutter:
1.       Stop membeli barang
2.       Mulai sedikit sedikit dalam membenahinya, missal. Minggu pertama adalah kamar tidur, minggu berikutnya dapur dst. Serta berkomitmen untuk melaksanakan point yang pertama, dan berusaha untuk put everything in place.
3.       Seleksi Barang koleksi, ini yang paling ribet, coz Antara koleksi sama sampah tipis batasannya, pokoknya harus diseleksi , mana yang msh kita nikmati sebagai barag koleksi, dan kemudian tempatan dalam satu tempat atau ruangan.
Percaya deh, rumah kita akan bebas dari clutter dan juga batin kita bebas dari rasa tidak nyaman yang terlalu berlebihan. Dealing with clutter is simply a willingness to deal with our selves . Rasanya gak enak aja merasa stuck, karena barang barang yang terlalu merepotkan itu.
So..remember.. Maybe you can buy all the thing in the world, but u can have it all, coz there’s not enough room to keep it all the thing u desire.
Jadi kita…harus belajar buat content… Be Blessed…. J

4 komentar:

viryaniKHO mengatakan...

bagusssss aku suka banget sama oprahh ahaha. nonton shownya.. tp sayang ya dya bkn agama baru :(
trnyata aku bln follow blogmuu gubraks ahaha

marthavina mengatakan...

Ya...gmana pun si O itu bikin byk orang terinspirasi, cuma...sayang aja, dia terlalu mendewakan dirinya sendiri, mudah mudahan sih dia bisa liat betapa tidak "dewa"sa nya dia :)

Mega mengatakan...

Ani: Iya Ni, aku juga sempat mengidolakan Oprah, tapi pas tau dia bikin agama baru aku jadi gak terlalu mengidolakan dia. Tetap suka sih nonton Oprah, banyak nilai-nilai yang bisa aku ambil dan aku daiajar Tuhan banyak hal lewat tayangannya dia. Cuman kudu selektif sekarang, pernah lo aku hampir tercuci otak nonton tayangannya.

Mbak Martha: Aku salah satu yang terinspirasi mbak, hehehehee. Tapi sekarang lebih selektif sih ^^

Aku juga kadang beli barang lebih dari 1 lo mbak, supaya punya cadangan, hahahaha, gak suka banget kalo pas perlu tau-tau gak ada, dan kadang kalo dah pusing nyari, milih beli. Tapi blom sampe separah yang di Oprah itu sih, hahahahahah.

marthavina mengatakan...

Saya seneng beli satu satu, dan ditaro..ditempatnya, begitu perlu pergi ketempatnya, dan kalo abis baru beli. saya gak suka py double double, bikin rumah sesek, tp suami suka "nyimpen" dan kalo abis make suka taro ngasal gitu, aah..kamar kerjanya dulu itu kayak gambar yang saya taro diatas lho Mega, mau di beresin jg bingung..apa yg diberesin duluan. Puji Tuhan..sekarang kamar kerjanya dah rapi. dan gak balik kayak dulu lagi, soale istrinya rada cerewet nech...sebenernya ini cuma masalah managemen barang aja sih, cuma kita cenderung numpuk barang buat rasa secure.Padahal barang dan fill in secure itu gak ada hub. tp byk org yang melakukannya( termsk suami ku)dan itu kudu "disembuhkan" biar rumah tetep jd tempat yg nyaman bukan kayak gudang berantakan.